Contoh Makalah " FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME " lengkap Dengan Daftar Pustaka

BAB II
PEMBAHASAN

FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME

A.    Pengertian Filsafat Pendidikan Eksistensialisme

Kata eksistensi berasal dari kata eks (keluar) dan sistensi, yang diturunkan dari katakerja sisto (berdiri, menempatkan). Oleh karena itu kata eksistensi di artikan: manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Ia dapat meragukan segala sesuatu, tetapi satu hal yang pasti, yaitu bahwa dirinya. Dirinya itu disebut “aku”. Segala sesuatu di sekitarnya dihubungkan dengan dirinya (mejaku, kursiku,temanku, dsb). Di dalam dunia manusia menentukan keadaannya dengan perbuatan-perbuatannya. Ia mengalami dirinya sebagai pribadi. Ia menemukan pribadinya dengan seolah-olah keluar dari dirinya sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang di luar dirinya. Ia menggunakan benda-benda yang di sekitarnya. Dengan kesibukannya itulah ia menemukan dirinya sendiri. Ia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya dan sibuk dengan dunia luarnya. Demikian ia berinteraksi.[1]
Eksistensialisme biasa dialamatkan sebagai salah satu reaksi dan sebagian besar reaksi terhadap beberapa sifat dan filsafat tradisional pada masyarakat modern. Dengan demikian, eksistensialisme pada hakekatnya adalah aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya. Aliran ini termasuk kelompok filsafat modern yang dimunculkan oleh Danish Soren Kierkegaard. Ia memberikan pengertian tentang eksistensialisme sebagai suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakkan rasional. Dengan demikian, aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman dan situasi sejarah yang dialami manusia. Aliran ini tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak dan spekulatif. Baginya, segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya serta kemampuan dan keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya. Atas dasar pandangan tersebut, sikap di kalangan kaum eksistensialisme sering kali nampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to do adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya.[2]
Dalam studi sekolahan filsafat, eksistensialisme paling di kenal melalui kehadiran Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “human is condemned to be free” atau manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya kebebasan maka manusia itu dapat bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialisme adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau “dalam istilah orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “kebebasan yang bertanggung jawab”? Bagi eksistensialisme, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain. Namun, menjadi eksistensialisme, bukan melulu harus menjadi seorang yang berbeda dari apa yang lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya pada masa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.[3]
Pada umumnya Soren Kierkegaard di pandang sebagai sumber utams filsafat eksistensialisme, akan tetapi jelas bahwa filsafat fenomenologi Husserl, filsafat hidup Bergson dan metafisika modern membawa pengaruhnya yang besar juga. Pokok pemikirannya dicurahkan kepada pemecahan yang konkrit terhadap persoalan yang mengenai arti “berada”. Menurut dia, persoalan tentang “berada” ini belum pernah di kemukakan dengan cara yang benar, karena orang telah mengira, bahwa ia telah tahu tentang hal itu. Padahal sebenarnya pengertian kita tentang “berada” hingga kini hanya samar-samar saja.[4]

B.     Tokoh-tokoh aliran eksistensialisme dan ajarannya

Menurut HEIDEGGER, persoalan tentang “berada” ini hanya dapat dijawab melalui antologi, artinya: jikalau persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Agar supaya usaha ini berhasil harus dipergunakan metode fenomenologis. Demikianlah yang penting ialah menemukan arti “berada” itu. Satu- satunya “berada”, yang sendiri dapat dimengerti sebagai “berada” ialah “berada”-nya manusia. Harus dibedakan antara “berada” (Sein) dan “yang berada” (Seinde). Ungkapan “yang berada” (Seinde) hanya berlaku bagi benda-benda, yang bukan manusia, yang jikalau dipandang pada dirinya sendiri artinya: terpisah dari segala yang lain, hanya berdiri sendiri. Benda-benda itu hanya “vorhanden”, artinya: hanya terletak begitu saja di depan orang, tanpa ada hubungannya dengan orang itu. (meja, jika di pandang pada dirinya, berkedudukan sebagai meja, lepas dari hubungannya dengan apapun). Benda-benda itu hanya berarti, jikalau dihubungkan dengan manusia, jika manusia “memeliharanya”. Jikalau demikian benda-benda itu dihubungkan dengan manusia, dan memiliki arti dalam hubungan itu.[5]
Guna menemukan arti “berada” itu manusia harus diselidiki dalam wujudnya yang biasa tampak sehari-hari. Heidegger bermaksud mengetahui yang belum di tafsirkan. Hasil usahanya ini ialah bahwa ia menemukan manusia yang “di dalam dunia”. Inilah ketentuan asasi yang paling umum tentang manusia. Manusia berada “di dalam dunia”. Desain berarti “berada dalam dunia”. Ketentuan ini berlaku bagi semua manusia, sekalipun cara mereka “berada di dalam dunia” maka ia dapat memberi tempat kepada benda-benda itu dan juga dengan manusia. Manusia yang lain, dapat bergaul dan berkomunikasi dengan semuanya itu.[6]
Filsuf eksistensialisme yang akan kita bicarakan sebagai tokoh kedua adalah JEAN PAUL SARTRE (1905). Olehnya filsafat eksistensialisme menjadi tersebar luas. Hal ini disebabkan karena kecakapannya yang luar biasa sebagai sastrawan. Ia menyajikan filsafatnya dalam bentuk roman dan pantas dalam bahasa yang mampu menampakkan maksudnya kepada para pembacanya. Dengan demikian filsafat eksistensialisme di hubungkan dengan hidup yang konkrit ini. Di dalam bukunya itu Sartre mulai dengan menganalisa “ada” atau “berada” (I’etre). Menurut dia ada dua macam “etre” atau “berada”, yaitu I’etre-en-soi (Berada-dalam-diri) dan etre-pour, soi (ber-ada-untuk-diri). Yang dimaksud dengan I’ etre-en-soi atau “berada-dalam-diri” ialah semacam berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Filsafat berpangkal dari realitas yang ada, sebab realitas yang ada itulah yang kita hadapi, kita tangkap, kita mengerti. Ada banyak yang berada: pohon, batu, binatang, manusia, dsb. Semuanya itu berbeda-beda, banyak ragamnya, akan tetapi ada sebutan umum bagi semuanya itu, yaitu: semuanya itu ada atau berada. “Berada” mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, segala materi. Semua benda ada-dalam-diri atau ada-dalam-dirinya-sendiri. Tidak ada alasan atau dasar mengapa benda-benda itu berada begitu (apa sebab meja itu meja, dan bukan kursi, serta bukan tempat tidur, tiada alasannya). Segala yang berada-dalam-diri ini tidak aktif, akan tetapi juga tidak pasif, tidak meng-ia-kan tetapi juga tidak menyangkal. Semuanya dikatakan padat, beku, tertutup, yang satu lepas dari pada yang lain, tanpa saling berhubungan. Etre-en-soi mentaati prinsip identitas (it is what it is). Benda-benda tidak mempunyai hubungan dengan keberadaannya. Meja itu ada, meja itu warnanya demikian. Titik tidak dapat mengatakan, bahwa meja bertanggung jawab atas fakta bahwa ia adalah meja, bahwa warnanya demikian, dsb.[7]
Filsafat eksistensialisme berikutnya, yang akan dibicarakan adalah filsafat yang diajarkan oleh KARL JASPERS (1883-1969, yang semula belajar hukum dan kedokteran, tetapi yang akhirnya setelah menjabat sebagai dosen psikologi-psikiatri (1913-1916 di Heidelberg sebagai privat dosen, 1916-1921 sebagai ordinaris psikologi), memindahkan perhatiannya ke filsafat. Hal ini terjadi pada tahun 1919, ketia ia menulis bukunya Die Psychologie der Weltanschauungen, atau “Psikologi pandangan-pandangan Dunia (1919). Pada tahun 1921-1937 ia menjabat guru besar filsafat di Heidelberg. Karyanya yang paling penting guna mengetahui sistemnya adalah Philosophie, atau “filosofi” (1932).[8]
Pokok persoalan filsafat yang paling penting baginya adalah bagaimana dapat menangkap “ada” atau “berada” (das sein) dalam eksistensi sendiri. Apakah “ada” itu? Menurut Jaspers “ada bukanlah hal yang obyektif, yang dapat diketahui setiap orang. Orang harus mencarinya dengan susah-payah dengan melalui beberapa tahap. Sebuah benda yang konkrit bukanlah “ada” dalam arti yang umum. Benda tertentu yang konkrit itu (meja, kursi, dsb) adalah suatu “ada” tertentu, yang terbatas. Maka benda bukanlah seluruh “ada”. “Ada” dalam arti yang sebenarnya, “ada” yang umum, meliputi, merangkumkan segala yang berada secara terbatas dan tertentu. “Ada ini tidak dapat diraih, tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori. “Ada” yang demikian ini disebut das Ungreifende (yang merangkum). Menurut Jaspers, ada 3 cara untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” itu. Pertama-tama kita dapat mendekatinya dengan berpangkal dari diri kita sebagai Dasein, sebagai pengada yang berada di tengah-tengah segala pengada yang lain. Sebagai Dasein di satu pihak kita sama dengan pengada-pengada yang lain, di tengah-tengahnya kita berada, yaitu bahwa kita dapat dijadikan obyek atau sasaran pemikiran serta penyelidikan (umpamanya di dalam ilmu alam, biologi, psikologi). Akan tetapi di lain pihak kita memikirkan atau menyelidiki pengada-pengada yang lain. Sebab jikalau kita memikirkan atau menyelidiki pengada-pengada, hal itu kita lakukan dari suatu pusat, dari mana segala obyektivasikan. Pusat itu, yang berfungsi sebagai subyek, tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan. Sekalipun demikian kita dapat berusaha untuk menjelaskannya (erhellen), bukan untuk mengenalnya (erkennen). Kita dapat menginsyafi, bahwa yang sebagai subyek tidak dapat di obyektivasikan itu, dapat menerobos atau melewati segala batas-batas obyektivasi. Di sinilah kita sebagai subyek nampak sebagai “yang merangkumi”, yaitu sebagai “ada”, namun “ada” yang adalah kita sendiri (das Umgreifende das wir sind). Jadi belum “ada” dalam dirinya sendiri. Ada cara lain lagi untuk mendekati “ada” yang adalah kita sendiri ini, yaitu dengan melalui kesadaran (Bewusstsein). Bagi kita, yang benar-benar ada dalam kenyataan adalah apa yang ada bagi kesadaran. Sebaliknya, apa yang bagi kesadaran tidak ada, bagi kita juga tidak ada dalam kenyataan. Demikianlah kesadaran adalah perlu mutlak guna menjadikan apa saja menjadi benar-benar ada bagi kita. Jika demikian, sama halnya dengan pusat diri kita sebagai subyek, kesadaran menerobos atau melewati segala batas obyektivasi. Kesadaran yang kita miliki termasuk kesadaran yang umum (Bewusst sein Uberhaupt). Di dalam kesadaran umum inilah kita nampak sebagai “ada” yang merangkumi, yang adalah kita sendiri. (Das Umgreifende das wir sind)”.  Akhirnya kita adalah roh (Geist), yaitu kesatuan dan keseluruhan dari apa yang kita pikirkan, yang kita buat, yang kita rasakan, dengan kata lain, pusat yang dinamis, dari mana kita menampakkan diri kita sebagai yang menerobos, yang merangkumi segala batas obyektivasi. Demikianlah di dalam roh ini kita menampakkan diri sebagai “ada”, yang adalah diri kita sendiri. Akan tetapi harus diingat, bahwa “ada” yang adalah kita sendiri ini bukanlah “ada” yang sebenarnya. Semua itu adalah cara “ada” berada, yang menunjuk ke arah mana kita dapat lebih mendekati “ada” yang merangkum, dalam arti yang sebenarnya itu.[9]
Filsuf eksistensialisme yang keempat, yang akan kita bicarakan, adalah GABRIEL MARCEL (1889-1973), yang di lahirkan di Paris. Pada tahun 1910 ia mendapat ijazah ilmiahnya di bidang filsafat. Semula ia tertarik kepada idealisme, akan tetapi kemudian ia berpaling dari idealisme dan mengikuti eksistensialistis adalah Exsistence et Objectivite, atau “Eksistensi dan Obyektivitas” (1924), dimana ia membela dalil-dalil yang menekankan pentingnya eksistensi sebagai pangkal tolak pemikiran filsafati. Sekalipun demikian di sini istilah “exsistence” tidak berarti “cara berada” manusia, melainkan “ada secara nyata”, bahkan dipakai dalam arti “ada sebagai kenyataan jasmaniah”. Oleh karena itu maka mungkin boleh dikatakan, bahwa ia adalah filsuf eksistensialisme yang pertama, jikalau dilihat dari urutan waktu. Tetapi karya-karyanya tidak diuraikan secara sistematis. Itulah sebabnya sukar sekali untuk merangkumkan pandangannya. Yang jelas ialah, bahwa ia dekat sekali dengan Kierkegaard, namun gagasan pokonya telah dijabarkan sebelum ia pernah membaca tulisan Kierkegaard. Ada dua buku harian yang ditulisnya, yang mengandung gagasan-gagasan metafisis, yaitu: Journal Methaphysique, atau “Buku harian metafisika” (1914; 1915-1923; yang diterbitkan pada tahun 1927), dan Etre et avoir, atau “Berada dan memiliki” (1928-1934, yang diterbitkan pada tahun 1935).[10]
Pangkal pikiran Marcel adalah hal “berada”. Menurut dia, sudah pasti bahwa “berada” itu ada. Sebab dalam kenyataannya kita berkata “aku berada”. Aku sadar, bahwa aku ada, jadi jelas bahwa “berada” itu ada, dan tidak dapat dikesampingkan. Hal ini berarti, bahwa tidak mungkin orang menganggap segala sesuatu yang ada hanya sebagai permainan bermacam-macam gejala yang silih-berganti tampil ke depan. Manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama-sama dengan orang lain. Tetapi manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Otonomi inilah yang menjadikan manusia dapat mentransendir dirinya sendiri, dapat mengadakan pemilihan, dapat mengatakan “ya” atau “tidak” terhadap segala sesuatu yang dihadapinya. Eksistensi bukan terletak disini, bahwa ia itu “ada”, tetapi terlebih-lebih bahwa ia adalah kehendak yang dapat menerobos baik “ada”nya maupun bukan “ada”nya. Eksistensi manusia bergerak diantara dua kutub, yaitu diantara “tidak berada” dan “berada”. Hal ini disebabkan karena manusia adalah suatu “penjelmaan berada” (etre incarne), makhluk yang dalam arti tertentu identik dengan tubuhnya, namun yang juga lebih dari pada hanya tubuh saja. Tubuh ini bagi manusia adalah suatu daerah perbatasan. Sebab di satu pihak dapat dikatakan, bahwa manusia menguasai tubuhnya, karena tubuh itu dapat dibunuhnya (bunuh diri) dan dapat dipakai sebagai alat untuk berbuat. Akan tetapi di lain pihak manusia tidak dapat bebas daripada tubuhnya. Kesatuan manusia dengan tubuhnya adalah sedemikian rupa, sehingga dapat dikatakan, bahwa manusia adalah tubuhnya. Namun tidak dapat disangkal, bahwa tubuh dapat menguasai manusia juga, yaitu menguasainya dari dalam, dengan melalui nafsu-nafsu. Demikianlah di dalam diri manusia sendiri ia telah berada dalam daerah-perbatasan. Tubuhnya telah menjadi titik pertemuan antara “berada” dan “tidak berada”.[11]



C.    Prinsip-prinsip Eksistensialisme

a.       Aliran ini tidak mementingkan metafisika (Tuhan). Aliran ini memandang bahwa manusia tidak diarahkan. Manusia yang menciptakan kehidupannya sendiri dan oleh sebab itu manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan-pilihan yang dibuat. Aliran ini memberikan pemahaman kepada individual, kebebasan dan penanggung jawabannya.
b.      Kebenaran lebih bersifat eksistensial dan pada proporsional atau faktual. Seperti halnya dalam pragmatisme, kebenaran itu di ciptakan dan tidak ditemukan, hidup itu tidak dipikirkan tetapi bersifat kontekstual relatif dan tidak objektif atau general, namun pengetahuan juga tidak bersifat instrumental atau praktis. Pengetahuan lebih merupakan suatu keadaan dan kecenderungan seseorang. Karena manusia tidak tunduk terhadap apa yang ada diluar dirinya, maka nilai-nilai tidak di cari dari luar diri melainkan dicari dalam diri manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan karena nilai itu hidup dalam dirinya. Oleh karena itu, apa yang disebut baik atau buruk tergantung atas keyakinan pribadinya.
c.       Aliran ini memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya dan individu hanya mengenal dirinya dalam interaksi dirinya sendiri dengan kehidupan.
d.      Aliran ini tidak mementingkan jawaban-jawaban pasti terhadap masalah-masalah filsafat yang penting. Aliran ini berusaha mengembangkan minat manusia terhadap masalah-masalah dan tidak membekali manusia sebagai orang asing dalam kehidupan ini. Untuk itu, manusia harus mencari jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah dengan cara mengenal diri sendiri.
e.       Jiwa aliran ini mengutamakan manusia, memperkembangkan eksistensi pribadinya atas alasan bahwa manusia akan mati. Karena itu, manusia harus menyiapkan dirinya untuk kematian. Namun demikian, dalam dataran realitas, sayangnya aliran ini tidak menetapkam apa yang harus dipersiapkan manusia untuk menghadapi kematian tersebut. Bahkan aliran ini menampakkan kegagalan cita-citanya atas penanggung jawaban perbuatan manusia. Padahal, manusia tidak boleh jadi hewan yang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang berada diluar dirinya.[12]

D.    Implementasi Eksistensialisme dalam Pendidikan

a.       Aliran ini mengutamakan perorangan/individu. Dalam dataran pendidikan, aliran ini menurut adanya sistem pendidikan yang beraneka warna dan berbeda-beda, baik metode pengajarannya maupun penyusunan keahlian-keahlian.
b.      Aliran filsafat ini memandang individu dalam keadaan tunggal selama hidupnya. Dalam hal ini, individu hanya mengenal dirinya dalam interaksinya sendiri dengan kehidupan.
c.       Aliran filsafat ini percaya akan kemampuan ilmu untuk memecahkan semua persoalannya. Karena itu, murid berkewajiban untuk melakukan eksperimen dan pembahasan untuk memungkinkannya ikut secara nyata dalam setiap kedudukan yang dihadapinya, atau dalam setiap masalah yang hendak dipecahkannya.
d.      Aliran ini tidak membatasi murid dengan buku-buku yang ditetapkan saja. Sebab, hal ini membatasi kemampuan murid untuk mengenal pandangan lain yang bermacam-macam dan berbeda-beda. Aliran ini mengutamakan pelajaran yang memungkinkan seseorang mempunyai kemampuan yang besar, seperti ilmu musik, gambar, pahat/ukir, sya’ir, menulis dan berpidato, drama, cerita, dan filsafat. Semua ilmu harus dipelajari karena ia adalah bagian dari diri si murid. Aliran ini cenderung kepada penggunaan metode Socrates dalam pengajaran, yaitu metode induksi sebagai proses pemahaman manusia atas dirinya. Fungsi ilmu ada;ah untuk membangkitkan minat pelajar dan kecerdasannya dalam usaha menumbuhkan diri pribadinya. Adapun sasaran pendidikan menurut aliran ini adalah untuk membiasakan murid atas tradisi rasional. Ada tiga macam tradisi rasional yang wajib dimantapkan oleh guru, yaitu: ketertiban, kemampuan kritik dan kemampuan memproduksi.[13]

E.     Pandangan Filsafat Pendidikan Islam Terhadap Eksistensialisme

a.       Dalam bidang pendidikan, aliran eksistensialisme menekankan agar masing-masing individu di beri kebebasan mengembangkan potensinya secara maksimal, tanpa ada batas (mutlak). Akibatnya, kebebasan mutlak pada gilirannya telah menghilangkan eksistensi Tuhan sebagai pencipta dan pengatur kebebasan. Hal ini dapat membawa kepada atheisme.
b.      Prinsip kebebasan dalam Islam justru mengantarkan manusia dekat kepada Tuhan. Manusia telah diberi kemampuan potensial untuk berpikir, berkehendak bebas dan memilih. Namun kebebasan timbul tidak boleh bertentangan dengan fitrahnya sebagai makhluk yang ber-Tuhan.
c.       Manusia tidak meminta tolong kepada dirinya saja tetapi juga dengan kekuasaan tertinggi (Allah).
FirmanAllahSWT:
“Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami minta pertolongan” (QS. al-Fatihah: 4)
d.      Kebebasan yang diberikan Islam pada manusia bukan kebebasan yang absolut, melainkan kebebasan yang tetap berada pada koridor ilahi dan dipimpin oleh nilai-nilai agama. Sebab, bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Dalam hal ini, filsafat pendidikan Islam memandang manusia (peserta didik) sebagai makhluk yang memiliki kebebasan dan potensi untuk berkembang. Untuk itu, kebebasan manusia tersebut hendaknya senantiasa diarahkan kepada kebaikan, yaitu kebebasan yang tetap menempatkan manusia pada posisi mulia, bukan sebaliknya.
e.       Sebagai hamba Allah, manusia dituntut untuk selalu mengarahkan aktivitas kehidupannya pada pengabdian kepada Allah SWT dan sebagai khalifah Allah fi al-Ardh. Dalam kapasitas seperti yang disebutkan terakhir ini, manusia bertanggung jawab untuk mengurus, memelihara serta mengolah alam semesta ini dalam kerangka ibadah kepada Allah dan manusia harus mempertanggung jawabkan atas aktivitas yang dilakukan dihadapan Allah. Firman Allah SWT, Artinya : “.... Sesungguhnya Allah selalu mengawasimu”.
(QS. al-Nisa’: 1).
f.       Manusia dalam filsafat pendidikan Islam adalah makhluk mulia yang punya risalah (tugas). Sementara menurut exsistensialisme, manusia tidak ada bentuk. Manusia hanya suatu gambaran dan sejumlah kemungkinan-kemungkinan yang mesti bekerja. Hal ini membuat dampak kegagalan karena melahirkan manusia yang tidak merasa apa-apa kecuali goncangan batin dan penderitaan.[14]
Pandangan eksistensialisme adalah:
Menurut metavisika: (hakekat kenyataan) pribadi manusia tak sempurna, dapat memperbaiki melalui penyadaran diri dengan menerapkan prinsip dan standar pengembangan kepribadian.
Epistemologi: (hakekat pengetahuan), data-internal-pribadi, acuannya kebebasan individu memilih.
Logika: (hakekat penalaran), mencari pemahaman tentang kebutuhan dan dorongan internal melalui analisis dan intropeksi diri.
Aksiologi: (hakekat nilai), standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih-diambil.
Etika: (hakekat kebaikan), tuntutan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti yang lain.
Estetika: (hakekat keindahan), keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya.[15]
Pandangan filsafat eksistensialisme tentang Realitas, Pengetahuan, Nilai, dan Pendidikan.
a.       Realitas: Menurut aliran eksistensialisme ini, realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, manusia harus menggambarkan apa yang ada dalam diri manusia, bukan yang ada diluar kondisi manusia.
b.      Pengetahuan: Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tergantung kepada pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas, pengetahuan yang di berikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah akan di jadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran.
c.       Nilai: Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di antara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Seseorang harus berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuan sendiri, yang harus ia capai dalam setiap situasi. Jadi, tujuan diperoleh dalam situasi.
d.      Pendidikan: Eksistensialisme sebagai filsafat, sangat menekankan individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungan sangat erat sekali dengan pendidikan, karena keduanya saling bersinggungan satu dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan (kemerdekaan). Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan: manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.[16]





BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Kata eksistensi berasal dari kata eks (keluar) dan sistensi, yang diturunkan dari katakerja sisto (berdiri, menempatkan). Oleh karena itu kata eksistensi di artikan: manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada. Ia dapat meragukan segala sesuatu, tetapi satu hal yang pasti, yaitu bahwa dirinya. Dirinya itu disebut “aku”. Pada prinsip dan tokoh tokonys pun berbeda dengan aliran pragmatisme. Aliran eksistensialisme sangat lekat dengan  ke akuan.


B.     Kritik dan Saran

   Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan  kritikan dan saran dari pembaca yang  bersifat mendukung dan mendorong penulis untuk menyempurnakan penulisan makalah ini yang hasil kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan

C.    DAFTAR PUSTAKA

     Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 148.
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015) 30.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 150.
          Ibid, 150.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 150-151. Ibid,   157-158. Ibid 164-165.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: PT KANISIUS, 1980) 165-166.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 174.
          Ibid, 175.
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015), 31-32.
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015), 32.
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015), 33-34.
https://penadarisma.wordpress.com/makalah/pragmatisme-dalam-aliran-filsafat/





[1]  Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 148.
[2] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015) 30.
[4] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 150.
[5] Ibid, 150.
[6] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 150-151.
[7] Ibid, 157-158.
[8] Ibid 164-165.
[9] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: PT KANISIUS, 1980) 165-166.
[10]  Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta:PT KANISIUS, 1980) 174.
[11]  Ibid, 175.
[12] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015), 31-32.
[13] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015), 32.
[14] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT KALAM MULIA, 2015), 33-34.
[15] http://myfilsafat.wordpress.com/2012/05/12aliran-eksistensialisme/, 08 November 2016.


Baca selengkapnya beserta soal latihannya dengan Download file PDF di bawah ini yang sesuai dengan kebutuhan kamu, kalau kamu punya android silahkan Download Versi  Android , kalau kamu pnya PC silahkan kamu download versi PC. Untuk file lengkapnya silahkan di bwah ini


Untuk File SOAL Lengkapnya Silahkan Download Di Bawah Ini:

 File Untuk Dibuka Di Android Dibawah Ini

Download Button 

Atau Download File Untuk Komputer Silahkan Download Dibawah Ini

Download Button


Demikian dari kami semoga bermanfaat dan dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Mohon maaf bila ada kesalahan dan kesulitan Anda dalam Download Atau Akses Dari Artikel Diatas. Dan saya mohon bila anda menjumpai kesalahn tolong secepatnya tinggalkan komentar di Bawah agar secepatnya kami perbaiki.


Sumber  : taktis
Editor     :Kang Teguh
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Contoh Makalah " FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME " lengkap Dengan Daftar Pustaka "

Posting Komentar